Kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen sepertinya masih akan sangat panjang untuk bisa terselesaikan. Selain melibatkan tokoh-tokoh penting diantaranya Antasari Azhar, Wiliardi Wizar, Sigit Haryo Wibisino dan 6 orang tim eksekutor (saat ini berjumlah 9 orang), kasus ini juga memuat banyak kepentingan politik di dalamnya. Bahkan kabar terbaru menyebutkan muncul lagi sebuah nama baru dengan inisial HTS. Siapakah sebenarnya HTS ini, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan secara jelas.
Berita heboh yang sedang menjadi bahan perbincangan di berbagai media dan masyarakat luas ini telah berkembang menjadi banyak versi. Seorang gadis yang bernama Rani Juliani / Rhani Yuliani disebut-sebut memiliki hubungan asmara di antara Nasrudin dan Antasari Azhar diberitakan menjadi pemicu terjadinya kasus pembunuhan Nasrudin. Sedikit aneh terasa di otak saya, seorang Antasari Azhar sampai melakukan tindakan sebodoh itu. Sebagai seorang yang mengerti betul tentang hukum di Indonesia pastilah tahu bahwa tindakan itu adalah merupakan tindak pidana kelas berat yang masuk dalam katagori kasus pembunuhan berencana serta bisa diancam dengan hukuman mati. Lagi pula menurut saya, sosok Rani Juliani bukanlah sosok perempuan yang sangat cantik dan menarik, maksud saya nggak cantik-cantik amat gitu lho... sehingga layak untuk diperebutkan (ma'af passing grade saya mungkin terlalu tinggi untuk menilai kecantikan seorang wanita, he-he-he!), apalagi sampai berujung pada menghilangkan nyawa seseorang, wah nggak deh buat saya...
Secara pribadi saya melihat kasus ini bukan murni merupakan kisah cinta segita berdarah antara Rani Juliani - Nasrudin Zulkarnaen dan Antasari Azhar. Kisah cinta segitiga (yang menurut saya tidak menarik untuk dibahas dan kayaknya lebih tepat ditulis saja sebagai sebuah novel percintaan atau dibuat drama sinetron kegemaran para remaja dan ibu-ibu rumah tangga), sepertinya hanya merupakan usaha untuk mengalihkan perhatian publik pada kasus yang sebenarnya terjadi.
Seperti asumsi saya di atas, ada banyak pihak yang berkepentingan dalam kasus pembunuhan Nasrudin ini. Bisa kita lihat ke belakang sejenak, bagaimana sepak terjang Antasari yang selama ini gigih menangkapi dan memenjarakan para koruptor kelas kakap tanpa pandang bulu, bahkan besan SBY dan beberapa rekannya pun diterjang tanpa kompromi. Pastilah ini sangat mengganggu kenyamanan para koruptor sehingga mereka berusaha mencari celah untuk menjatuhkan Antasari dari jabatannya sebagai ketua KPK.
Dengan suap mungkin tidak berhasil, umpan wanita pun dicoba dipasang. Dan sepertinya siasat para koruptor ini berhasil menjebak Antasari hingga masuk perangkap dan terseret dalam arus kasus terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen.
Terlepas dari benar tidaknya adanya hubungan cinta segitiga itu (mudah-mudahan tidak benar), kita berharap pihak kepolisian bisa menuntaskan kasus ini secara profesional dan transparan sampai ke 'aktor intelektual yang sebenarnya bermain dalam kasus ini', sehingga hasil akhirnya nanti bukan berupa 'just costumade 4 some one' atau produk pesanan dari seseorang. Sebuah pertanyaan besar, mampukah kiranya kepolisian menuntaskannya jika nantinya harus bersentuhan dengan 'orang besar'?? Karena diperkirakan dana pembunuhan Nasrudin bukan hanya dari Sigid Haryo Wibisono, tapi kemungkinan ada banyak orang dibelakang Sigid.
Banyak pertanyaan yang masih harus kita tunggu jawabannya, misalnya saja :
- Adakah agenda lain dari kerja KPK yang berusaha dihalangi oleh pihak-pihak tertentu? Kemungkinan dengan diberhentikannya Antasari dari jabatannya sebagai ketua KPK maka kasus korupsi besar yang rencananya akan dibongkar oleh KPK menjadi terbengkalai. Kita lihat dalam beberapa hari ini muncul usulan KPK tidak boleh mengambil keputusan-keputusan penting selama terjadi kekosongan jabatan ketua KPK yang tadinya diduduki oleh Antasari Azhar. Ini artinya KPK akan menjadi 'macan ompong'! Dan mungkin saja nantinya para anggota DPR akan leluasa beramai-ramai mencari 'uang pesangon' sebesar-besarnya pada akhir jabatan yang hanya tersisa beberapa bulan ini dengan bebas hambatan... Ouch..!
- Ada juga yang mengusulkan jabatan Antasari Azhar harus segera digantikan secepatnya dalam waktu dekat ini (padahal secara teori dibutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun untuk proses seleksinya). Mungkin saja memang dibuat skenario untuk menjatuhkan Antasari Azhar agar bisa diduduki oleh seseorang yang tidak 'segarang' Antasari sehingga bisa diatur dan diajak berkompromi dalam pembongkaran kasus korupsi di negeri ini. Eh, jangan bongkar kasus saya ya, silahkan bermain di sana saja asal jangan masuk lahan saya... Skandal tiada henti!...
Dari awalnya memang terlihat banyak pihak yang berusaha membuat KPK mandul. Komisi independen ini seolah-olah ingin dijadikan kambing saja, jangan sampai menjadi macan yang akan membuat para koruptor terkencing-kencing ketakutan.
Sungguh sayang sosok Antasari Azhar yang selama ini menjadi tumpuan harapan untuk memberantas korupsi di negeri ini sekarang sedang dalam proses hukum. Meskipun pada proses naiknya ke kursi jabatan sebagai ketua KPK banyak suara-suara sumbang di sana-sini, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap prestasi yang telah diraih oleh Antasari Azhar dalam membongkar kasus-kasus korupsi besar di Indonesia.
Maaf, saya bukannya tidak melihat Antasari yang juga merupakan manusia biasa, yang tentu berpeluang juga untuk bisa tergoda oleh wanita. Tapi rasa-rasanya saya 'mencium' aroma konspirasi tingkat tinggi yang sangat kuat dalam kasus ini. Publik seolah-olah seperti digiring ke sebuah opini yang menyesatkan dengan memunculkan nama seorang wanita, lalu beredar foto-foto mesra Antasari Azhar bersama wanita tersebut. Sehingga kita seolah-olah berusaha dibuat terlena dengan drama cinta segitiga berdarah antara Antasari Azhar, Rani Juliani dan Nasrudin Zulkarnaen (almarhum), lalu kemudian melupakan kemungkinan-kemungkinan adanya konspirasi besar di balik kasus Antasari ini.
Sebenarnya banyak kejanggalan-kejanggalan dalam penemuan kasus pembunuhan Nasrudin hingga sampai pada nama Antasari Azhar. Beberapa di antaranya adalah Wiliardi Wizar dan keterlibatannya, sebodoh itukah WW yang jebolan akpol ini bertindak sampai mempertaruhkan reputasi dan karirnya. Dari mana perolehan senjata yang digunakan untuk menghabisi nyawa Nasrudin yang sebenarnya tidak mudah untuk mendapatkannya, perlu dirunut dari mana sumbernya.
Pembongkaran kasus ini juga terkesan begitu mudah serta terlihat seperti diatur menurut sebuah skenario saja. Demikian juga dengan pelaku penembakan yang katanya adalah seorang satpam toko buah, sepertinya mustahil melakukan penembakan terhadap sasaran bergerak dengan tingkat kesulitannya sangat tinggi serta beresiko gagal cukup besar, tapi koq bisa tepat mengenai sasaran pada titik yang mematikan? Mustahil dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan terbiasa memegang senjata api. Mungkinkah dia hanya seorang satpam toko buah, atau jangan-jangan dia adalah seorang anggota BIN?? Lantas dengan mudahnya polisi menemukan barang bukti senjata api tersebut dengan peluru yang masih lengkap di dalamnya. Belum lagi sosok Sigit Haryo Wibisono hingga sampai ke nama Antasari Azhar dan munculnya nama baru HTS. Siapa sebenarnya HTS ini dan apa perannya?
Nanti deh kita bahas selanjutnya coz saya udah capek ngetik, capek mikir dan ngantuk berad neh... Hoaam.. mo tidur dulu ah...he-he-he! Lanjutan beritanya nanti ya ditunggu. Sering-sering aja nengok ke sini, ok?
Punya opini? Silahkan memberikan komentar anda.














